Efek jangka panjang kondroitin sulfat pada OA lutut

Efek jangka panjang kondroitin sulfat pada OA lutut

(03-Mar-2009)

Salah satu penyakit degeneratif yang dapat mengenai persendian adalah osteoartritis (OA) dimana perjalanan penyakitnya berkembang lambat. OA merupakan penyakit rematik sendi yang paling banyak dijumpai terutama pada orang diatas 40 tahun diseluruh penjuru dunia. Penyakit ini berkaitan dengan usia lanjut, terutama mengenai sendi penumpu berat badan dan secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi dan hambatan gerak. Terapi OA pada umumnya bersifat simptomatik untuk membantu mengurangi keluhan nyeri, dan biasanya digunakan obat dari golongan antiinflamasi non steroid. Karena keluhan nyeri pada pada kasus OA bersifat kronik dan progresif, penggunaan obat anti inflamasi non steroid ini biasanya berlangsung lama, sehingga tidak jarang menimbulkan masalah yaitu munculnya efek samping. Sebagai contohnya di Amerika, penggunaan obat-obatan tersebut telah mengakibatkan sekitar 100.000 penderita OA menderita tukak lambung dengan 10.000-15.000 kematian setiap tahunnya.

Atas dasar masalah tersebut di atas, para ahli berusaha mencari terapi farmakologis yang dapat memperlambat progresifitas kerusakan tulang rawan sendi, bahkan kalau mungkin mencegah timbulnya kerusakan tulang rawan.

Beberapa obat telah dan sedang dilakukan uji pada binatang maupun uji klinis pada manusia. Obat-obat tersebut sering disebut sebagai chondroprotective agents atau disease modifying osteoarthritis drugs (DMOADs), jenis obat-obat yang dimaksud adalah glukosamin sulfat, kondroitin sulfat dan asam hialuronat.

Sejak dekade 80-an jenis obat-obat ini telah banyak diteliti, beberapa obat bersifat sebagai substitusi atau zat yang dapat menambah komponen tulang rawan atau kartilago. Alasan tersebut sangatlah dapat diterima bahwa pada kasus OA telah terjadi proses perusakan dan perbaikan tulang rawan sendi. Peluang dari perbaikan tulang rawan inilah yang menjadi dasar pemikiran bahwa dapat ditambahkan komponen dari tulang rawan itu sendiri yaitu dengan menggunakan glukosamin, kondroitin dan hialuronat sehingga penyembuhan diharapkan akan lebih menonjol jika dibandingkan dengan perusakan tulang rawannya.

Tulang rawan sendi merupakan jaringan yang sangat spesifik dengan matriks ekstraseluler yang banyak, >90% merupakan volume matriks dan sel-selnya hanya berjumlah <10%. Struktur dan integritas matrikslah yang merupakan kekuatan untuk menahan beban di jaringan sendi. Jaringan ini terdiri kolagen fibriler dan proteoglikan nonfibriler yang mempunyai daya regang kuat dan tahan terhadap tekanan yang terjadi pada tulang rawan.

Berikut ini kami sampaikan uji klinik terbaru mengenai efek jangka panjang kondroitin sulfat sebagai disease modifier pada OA lutut (STOPP-Study on Osteoarthritis Progression Prevention). Tujuan: untuk menilai efek jangka panjang kondroitin 4 dan 6 sulfat (CS) pada progresifitas radiografik dan perubahan gejala-gejala OA lutut.

Metode:

* Merupakan studi internasional, acak, tersamar ganda, dengan pembanding plasebo yang melibatkan 622 pasien OA lutut primer pada kompartemen medial sendi tibiofemoral di Eropa dan AS, yang berusia 45-80 tahun.

* Secara acak, seluruh pasien dibagi menjadi 2 kelompok untuk mendapatkan CS 800 mg (n=309) atau plasebo (n=313), 1x/hari selama 2 tahun.

* Dilakukan pemeriksaan foto rontgen Lyon schuss pada lutut yang sakit saat sebelum dilakukan intervensi, pada bulan ke-12, 18, dan 24.

* Lebar rongga sendi (JSW) minimum dari kompartemen medial sendi tibiofemoral dinilai dengan menggunakan analisis gambar digital.

* Parameter primer yang dinilai: berkurangnya JSW minimum selama 2 tahun.

Hasil:

* Skor nyeri awal rata-rata dengan menggunakan 100 mm visual analog scale adalah 57 mm.

* Analisa per-protocol hanya mengikutkan 206 pasien pada kelompok CS dan 217 pasien pada kelompok plasebo.

* Dari hasil intent-to-treat analysis pada bulan ke-24 memperlihatkan adanya penurunan hilangnya JSW minimum yang bermakna (p<0,0001) pada kelompok CS (rata-rata ± SEM -0,07 ± 0,03 mm) bila dibandingkan dengan kelompok plasebo (-0,31 ± 0,04 mm). Persentase pasien dengan progresifitas rafiografik ≥0,25 mm menurun secara bermakna pada kelompok CS dibandingkan dengan kelompok plasebo (28% vs 41%; p<0,0005); dengan penurunan risiko relatif 33% (95% CI 16-46%). Number of patients needed to treat (NNT) adalah 8 (95% CI 5-17).

* Dari hasil analisa per-protocol memperlihatkan perbedaan median hilangnya JSW minimum selama 24 bulan sebesar 0,20 mm (p<0,0001), dan skor efikasi global yang lebih baik pada bulan ke-6 (median 50 vs 35, p=0,03) pada kelompok CS. Number of patients needed to treat (NNT) adalah 5.

* Perbaikan nyeri terjadi lebih cepat secara bermakna pada kelompok CS dibandingkan dengan kelompok plasebo antara bulan pertama sampai bulan ke-9 (p<0,01).

* Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada profil keamanan diantara kedua kelompok.

Kesimpulan:

Combined structure-modifying and symptom-modifying effects jangka panjang dari CS memperlihatkan bahwa CS dapat menjadi disease-modifying agent pada pasien OA lutut.

sumber : situs Kalbe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.